MARI KITA SUKSESKAN PEMILU 2014

16 Februari 2010

Kisah Salima dan Jarum Gantung

Sejak dahulu Rumah Sakit Katarina [aka RS. Ibu Kartini] sudah sangat populer di telinga masyarakat Asahan. Keberadaannya sebagai rumah sakit yang juga menjadi rujukan bagi pasien-pasien “kritis” dari puskesmas di kecamatan seolah menjadikan Katarina sebagai "RSUD kedua" setelah Rumah Sakit Umum Daerah Kisaran. Sebagai Rumah Sakit peninggalan Belanda, fasilitas dan peralatan medis Katarina memang relatif memadai. Pernah disatu masa pada era 80-an setiap menyebut Rumah Sakit Katarina, yang terbayang dibenak setiap orang adalah kata Salima dan Jarum Gantung. Entah sekarang, apakah kisah Salima dan Jarum Gantung itu masih melekat dibenak anak-anak Asahan?

Kisah Salima dan Jarum Gantung adalah bagian dari perjalanan sejarah budaya bertutur yang berkembang dimasyarakat Asahan ketika itu. Budaya yang telah membentuk idiom baru bernama "Salima" dan "Jarum Gantung". Idiom ini menjadi populer dan melekat dalam benak setiap orang karena sangat berhubungan dengan pasien yang sakit keras dan sedang bertaruh nyawa. Pokoknya jika ada anggota keluarga atau tetangga yang masuk rumah sakit Katarina kemudian mendengar informasi tentang Salima dan Jarum Gantung, itu artinya mereka harus banyak berdoa dan menata hati, karena itu bisa berarti bahwa kondisi pasien sudah kritis dan sangat mungkin nyawanya tidak tertolong.

Jika boleh dibandingkan, popularitas kisah Salima dan Jarum Gantung ini barangkali sama seperti halnya popularitas Jalan Gandhi di Medan. Anda orang Asahan atau Sumut tau kisah tentang Jalan Gandhi? Atau masih ingat tentang kisah itu? Mungkin sebagian besar dari kita sudah tidak ingat lagi. Baiklah, sekadar menyegarkan ingatan kitai, Jalan Gandhi adalah lokasi Kantor Laksusda di Medan. Sejak tahun 67-an sangat populer sebagai tempat penahanan [camp konsentrasi] tahanan politik, atau tentara-tentara yang dianggap tidak setia kepada Pancasila. Dari Jalan Gandhi ini banyak beredar cerita mulut kemulut tentang kerasnya perlakuan yang dialami tahanan ketika itu. Kerasnya kehidupan dalam Jalan Gandhi kemudian diabadikan dalam sebuah lagu rakyat yang juga beredar dari mulut ke mulut entah siapa penciptanya, sepenggal lirik yang masih saya ingat sebagai berikut..

Sudah berapa kali Abang katakan….
Jangan bermain cinta dengan Pereman…
Nanti Abang ditangkap oleh Polisi…
Lalu masuk Jalan Gandhi…
Kalau Abang masuk Jalan Gandhi..
Tangan digari badan dipukuli…
Sampai disana Abang disiksa lagi….
..dst

Kembali ke kisah Salima dan Jarum Gantung. Tentu Anda pembaca bertanya-tanya seperti apa gerangan kisah Salima dan Jarum Gantung itu? Ternyata Salima itu adalah kependekan dari "Bangsal Lima", ruangan [mungkin kelas 3] khusus untuk merawat pasien-pasien kritis. Adapun Jarum Gantung adalah kata lain dari botol infus yang digantung dan biasanya diletakkan di sebelah fasien.

Penyederhanaan "infus" menjadi "Jarum Gantung" adalah bagian dari kekayaan budaya bertutur masyarakat Asahan [dan Sumatera Utara] yang perlu di dokumentasikan. Sebab, dengan demikian kita bisa mengetahui sejarah perjalanan budaya bertutur masyarakat Asahan dari masa ke masa. Ini adalah bagian dari upaya memperkuat benteng pertahanan budaya lokal terhadap serbuan globalisasi budaya dari berbagai penjuru dunia.

Untuk melestarikan kekayaan budaya bertutur masyarakat Asahan, peran serta masyarakat haruslah didukung oleh fasilitasi pemerintah. Sudah saatnya Pemkab. Asahan, dalam hal ini Dinas Pendidikan atau Pariwisata dan Budaya mulai memikirkan dan mempertimbangkan untuk menyusun sebuah buku kompilasi yang berisi kumpulan idiom atau istilah-istilah lama yang menjadi bagian dari sejarah perjalanan budaya bertutur masyarakat Asahan dari masa ke masa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Berbahasalah dengan baik maaf comen akan dihapus bila terdapat komen yang tidak sopan